Senin, 14 November 2011

sejarah Kerajaan Demak (2)


PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA KERAJAAN DEMAK
oleh : Fadlan Hilmie S.Hum

             Kerajaan Demak yang secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas dikelilingi peraiaran laut Muria.Bintoro yang menjadi pusat kerajaan Demak yang terletak antara bergola dan jepara, dimana bergola adalah sebuah pelabuhan yang penting pada masa Kerajaan Mataram ( Wangsa Syailendra ), sedangkan Jepara akhirnya berkembang menjadi pelabuhan yang penting bagi kerajaan Demak. Kehidupan politik lokasi kerajaan Demak yang strategis untuk perdagangan nasional, karena menghubungkan perdagangan antara Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian Timur, serta keadaan Majapahit yag sudah hancur, maka Demak berkembang menjadi kerajaan besar di pulau Jawa, dan memiliki peranan penting dalam rangka penyebaran agama islam, khususnya di pulau Jawa, karena Demak berhasil menggantikan peran Malaka, setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis 1511.

III.1 Kehidupan Ekonomi, Sosial, dan Budaya    
Kehidupan Ekonomi kerajaan Demak, karena Demak terletak di wilayah yang sangat strategis yaitu di jalur perdagangan nusantara memungkinkan Demak berkembang menjadi kerajaan maritim. Dalam kegiatan perdagangannya, Demak berperan sebagai penghubung daerah penghasil rempah-rempah di wilayah Indonesia  bagian timur dan penghasil rempah-rempah di Indonesia bagian barat. Dengan demikian perdagangan di Demak semakin berkembang. Dan hal in juga didukung oleh pengusaan Demak terhadap pelabuhan-pelabuhan di daerah pesisir pantai pulau Jawa. Sebagai kerajaan islam yang memiliki wilayah di pedalaman, maka Demak juga memperhatikan masalah pertanian, sehingga beras merupakan salah satu hasil pertanian yang menjadi komoditi dagang. Dengan demikian, kegiatan perdagangannya di tunjang oleh hasil pertanian, yang mengakibatkan Demak memperoleh keuntungan dibidang ekonomi.
            Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Demak  lebih berdasarkan pada agama dan budaya islam, karena pada dasarnya Demak adalah pusat penyebaran Islam pertama di pulau Jawa. Sebagai pusat penyebaran Islam, Demak menjadi tempat berkumpulnya para wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Bonang. Para wali tersebut memiliki peranan yang penting pada masa perkembangan kerajaan Demak, seperti yang dilakukan oleh Sunan Kudus yang memberi nasihat kepada Raden Patah untuk membuat siasat[1] menghancurkan kekuatan potugis dan membuat pertahanan yang kuat di Indonesia. Dengan demikian terjalin hubungan yang erat antara raja/ bangsawan, para wali/ulama dengan rakyat. Hubungan yang erat tersebut, tercipta melalui pembinaan masyarakat yang diselenggarakan di Masjid maupun di Pondok Pesantren, sehingga tercipta kebersamaan atau Ukhuwah Islamiah ( Persaudaraan di antara orang- orang Islam )
            Demikian pula di bidang budaya, banyak hal yang menarik yang merupaka peninggalan dari kerajaan Demak.Salah satunya adalah Masjid Demak, dimana salah satu tiang utamanya terbuat dari pecahan- pecahan kayu yang disebut dengan soko Tatal. Masjid Demak dibangun atas pimpinan Sunan Kalijaga. Di serambi depan Majid ( pendopo ) itulah Sunan Kalijaga menciptakan dasar- dasar perayaan Sekaten (Maulud Nabi Muhammad SAW) yang sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta dan Cirebon. Hal tersebut menunjukan adanya akulturasi kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Islam.
            Setelah Demak berkuasa kurang lebih setengah abad, ada beberapa hasil peradaban Demak yang sampai saat ini masih dapat dirasakan. Misalnya :[2]
1.      Sultan Demak, Senopati Jimbun pernah menyusun suatu himpunan undang-undang dan peraturan di bidang pelaksanaan hukum. Namanya : Salokantara, sebagai kitab hukum, maka di dalamnya antara lain menerangkan tentang pemimpin keagamaan yang pernah menjadi hakim. Mereka disebut dharmahyaksa dan kertopapatti.
2.      Gelar pengulu ( kepala ), juga sudah dipakai disana, yang sudah dipakai Imam di Masjid Demak. Hal in juga terkait dengan orang yang terpenting disana, yaitu nama Sunan Kalijaga. Kata Kali berasal dari bahasa Arab Qadli, walaupun hal itu juga dikaitkan dengan nama sebuah sungai kecil, Kalijaga di Cirebon. Ternyata istilah Qadli, pada masa-masa selanjutnya dipakai oleh imam-imam masjid.
3.      Bertambahnya bangunan-bangunan militer di Demak dan ibukota lainnya di Jawa pada abad XVI.
4.      Peranan penting Masjid Demak sebagai pusat peribadatan Kerajaan Islam pertama di Jawa. Dengan Masjid, umat Islam di Jawa daapt mengadakan hubungan dengan pusat-pusat Islam Internasional di luar negeri ( di Tanah Suci, maka dengan kekhalifahan Ustmaniyah di Turki )
5.      Munculnya kesenian, seperti wayang orang, wayang topeng, gamelan, tembang macapat, pembuatan keris, dan hikayat-hikayat Jawa yang dipandang sebagai penemuan para wali yang sezaman dengan Kerajaan Demak.
6.      Perkembangan sastra Jawa yang terpusat di bandar-bandar pantai utara dan pantai timur Jawa yang mungkin sebelumnya tidak di islami, maupun pada masa-masa selanjutnaya “diislamkan”.

Kemajuan Kerajaan Demak dalam berbagai bidang tidak bisa dilepaskan dari peran serta Islam dalam menyusun dan membentuk fondasi Kemasyarakatan Demak yang lebih Unggul, disamping itu peran serta para pemimpin dan para Wali juga turut membantu kejayaan Kerajaan Demak. 

KERUNTUHAN KERAJAAN DEMAK

            Pemerintahan Raden Patah kira-kira berlangsung di akhir abad ke-15 hingga awal abad ke 16. Tatkala perjuangan Raden Patah melawan Portugis belum selesai, pada tahun 1518 beliau wafat, dan digantikan oleh puteranaya, Adipati Unus ( Pangeran Sebrang Lor ). Dikenal denagan nama tersebut, karena dia pernah dia menyebrang ke utara untuk menyerang Portugis yang ada disebelah utara( Malaka ). Disamping itu, dikenal dengan nama Cu Cu Sumangsang atau Aria Penangsang.[3]Namun sayang, dia hanya memerintah selam tiga tahun sehingga usahanya sebagai negarawan tidak banyak diceritakan. Konon, dia mempunyai armada laut yang terdiri dari 40 kapal juang yang berasal dari daerah-daerah taklukan, terutama yang diperoleh dari Jepara.[4]
            Sebagai penggantinya adalah Sultan Trenggono/ Tranggana, saudara Adipati Unus. Dia memerintah tahun 1512-1546. Tatkala memerintah, kerajaan telah diperluas ke barat dan ke hulu Sungai Brantas atau pada saat ini dikenal dengan kota Malang.[5]Sebagai lambang kebesaran Islam, Masjid Demak pun dibangun kembali.
            Dengan gambaran tersebut diatas, perjuanagan Pangeran Trenggono tidak kalah oleh para pendahulunya. Adapun orang-orang Portugis di Malaka, dirasanaya sebagai ancaman dan bahaya.Untuk menggempur langsung dia belum sanggup. Namun demikian, dia berusaha perluasan daerah-daerah yang dikuasai oleh Portugis yang telah berhasil menguasai pula daerah pase di Sumatra Utara. Seorang ulam terkemuka dari pase Faittahilah yang sempat melarikan diri dari kepungan orang Portugis, di terima oleh Trenggono. Fattahilah pun dikawinkan dengan adiknya. Ternyata Fattahilah dapat menghalangi kemajuan orang-orang Portugis dengan merebut kunci-kunci perdagangan Kerajaan Pejajaran di Jawa Barat yang belum masuk Islam, yaitu Banten dan Cirebon. Sementara itu, Trenggono sendiri berhasil menaklukan Mataram dipedalaman Jawa Tengah dan juga Singasari Jawa Timur bagian selatan. Pasuruan dan Panukuan dapat bertahan, sedangkan Blambangan menjadi bagian Kerajaan Bali yang tetap Hindu. Dalam usahanya untuk menyerang Pasuruan pada tahun 1546, Trenggono Wafat. Dengan wafatnya Sultan Trenggono, timbulah pertengkaran yang maha hebat di Demak tentang siapa yang menggantikannya[6].
Setelah Sultan Trenggono wafat muncul kekacauan dan pertempuran antara para calon pengganti Raja. Konon, ibukota Demak pun hancur karenanya.[7]Para calon pengganti raja yang bertikai itu adalah anak Trenggono, Sunan Prawoto dan Arya Penangsang anak dari Pangeran Sekar Ing Seda Lepen, adik tiri sultan trenggono yang dibunuh oleh Sunan Prawoto ketika membantu ayahnya merebut tahta Demak. Arya penangsang dengan dukungan dari  gurunya Sunan Kudus untuk merebut takhta Demak, mengirim anak buahnya yang bernama Rangkud untuk membalas kematian ayahnya.
Pada tahun 1549 menurut Babad Tanah Jawi, pada suatu malam Rangkud berhasil menyusup ke dalam kamar tidur Sunan Prawoto. Sunan mengakui kesalahannya telah membunuh Pangeran Seda Lepen. Ia rela dihukum mati asalkan keluarganya diampuni. Menurut Babad Tanah Jawi, pada suatu malam Rangkud berhasil menyusup ke dalam kamar tidur Sunan Prawoto. Sunan mengakui kesalahannya telah membunuh Pangeran Seda Lepen. Ia rela dihukum mati asalkan keluarganya diampuni Rangkud setuju. Ia lalu menikam dada Sunan Prawoto yang pasrah tanpa perlawanan sampai tembus. Ternyata istri Sunan sedang berlindung di balik punggungnya. Akibatnya ia pun tewas pula. Melihat istrinya meninggal, Sunan Prawoto marah dan sempat membunuh Rangkud dengan sisa-sisa tenaganya.
Arya Penangsang juga membunuh adipati Jepara yang sangat besar pengaruhnya, istri adipati Jepara, Ratu Kalinyamat mengangakat senjata dan dibantu oleh adipati yang lain untuk melawan Arya Penangsang. Salah satunya adalah Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ), menantu Sultan Trenggono yang berkuasa di Pajang ( Boyolali ). Akhirnya, Joko Tingkir dapat membuuh Arya Penangsang. Pada tahun 1586, Keraton Demak pun dipindah ke Pajang.[8]
Runtuhnya Kerajaan Demak tak berbeda dengan penaklukannya atas Majapahit. Peristiwa gugurnya tokoh-tokoh penting Demak saat menyerang Blambangan yang eks-Majapahit, dan rongrongan dari dalam Demak sendiri membuat kerajaan makin lemah dan akhirnya runtuh dengan sendirinya. Sebuah pelajaran dari sejarah cerai-berai dari dalam akan membahayakan kesatuan dan persatuan.

KESIMPULAN

Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah, putra dari Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) dengan seorang putri Campa sekitar tahun 1500 M. Setelah berhasil mengalahkan Majapahit dan memindahkan seluruh perangkat kerajaan ke Demak. Kerajaan Demak terletak di daerah Bintoro atau Gelagahwangi yang sebelumnya merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit. Kerajaan Demak merupakan Kerajaan Islam Pertama di tanah Jawa dan berkuasa selama hampir setengah abad sebelum runtuh dan berganti nama menjadi pajang.
Kerajaan Demak Mencapai kejayaan pada masa sultan trenggono, kejayaan ini terlihat dari kemajuan dibidang ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan. Dibidang ekonomi Demak merupakan negara yang menjadi daerah penghasil beras dan penghubung jalur perdagangan nusantara, dibidang sosial dan politik kerajaan Demak memiliki daerah kekuasaan yang luas dan menjadi pusat penyebaran Islam, dibidang Kebudayaan kerajaan Demak menjadi pelopor dari lahirnya karya-karya sastra Jawa yang berakulturasi dengan budaya Islam.
Kerajaan Demak runtuh akibat perebutan kekuasaan dan pembalasan dendam diantara para penerus kerajaan tersebut, yaitu antara arya penangsang, putra Pangeran Sekar Ing Seda Lepen dengan Sunan Prawoto, anak dari Sultan Trenggono.
Sebuah pelajaran dari sejarah bahwa perebutan kekuasaan dan perpecahan dari dalam akan membahayakan kesatuan dan persatuan. Bangsa Indonesia harus belajar dari sejarah Kerajaan Demak jika tidak ingin hancur, bukan tidak mungkin jika para penguasa negeri ini melakukan kesalahan yang sama maka nasib negeri ini akan seperti Kerajaan Demak.


[1] R.Moh.Ali, Perjuanagan Feodal, cetakan kedua ( Bandung& Jakarta : Gonaco, 1963).hlm.87
[2] Graaf dan Pigeaud, Kerajaan, hlm.76
[3] Graaf dan Pigeaud, Kerajaan, hlm.44-45
[4] Ibid, hlm.44
[5] Ibid, hlm.64-66
[6] R.Moh.Ali, Perjuangan,hlm.89
[7] Ibid, hlm.85-86
[8] R. Soekmono, Pengantar,hlm.54.

Aku Tanpa Kamu


Aku tanpa kamu

Aku ingin minum dari gelasmu sayang,,,
Aku ingin makan dari suapan tanganmu,,,
Inilah aku saat ini manja padamu
Inilah aku yang membutuhkanmu sayang...
Lihat wanita yang memberi makan anaknya,,,
Aku ingin itu seperti itu,,,
Aku mau kamu hadir disini selalu
Meskipun tidak mungkin
Aku tetap berharapan kau datanglah
Sayang....
Aku membutuhkanmu,,,
April 2008 dikamar kos
AL-GAZALI DAN IBN RUSYD
oleh:Fadlan Hilmie S.Hum

2.1               Biografi al-Gazali
Al-Gazali bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Ath-Thusi Asy-Syafi’I Al-Ghazali, dikenal dengan sebutan Al-Gazali. Lahir di Thusi, pada tahun 450 H atau 1058 M. Al-Gazali merupakan anak seorang pemintal kain wol miskin yang taat, menyenangi ulama, dan aktif menghadiri majlis-majlis pengajian. Selain Al-Gazali, ayahnya ini juga memilki anak laki-laki lain bernama Ahmad. Ayah Al-Gazali memiliki keinginan agar anaknya tidak mejadi orang sepertinya. Dia berharap agar anaknya bisa membaca dan menulis dan mempelajari ilmu agama dengan baik. Oleh karena itu menjelang wafat dia menitipkan anaknya kepada seorang sufi. Ia menitipkan sedikit harta kepada seorang sufi itu. Sufi itu mengajari Al-Gazali dan saudaranya sampai harta pemberian ayahnya habis. sufi itu tidak mampu lagi memberi makan keduanya.selanjutnya sufi itu menyerahkan kedua anaknya untuk belajar pada pengelola sebuah madrasah sekaligus untuk menyambung hidup mereka.
Dimulailah perjalanan hidup mencari ilmu di kala ia masih kecil. Gazali belajar agama di kota Naisabur, dia tidak hanya belajar dari Al-juwaini, tetapi juga mempergunakan waktunya untuk belajar teori-teori tasawuf kepada Yusuf An-Nasaj. Kemudian ia melakukan latihan dan praktek tasawuf sekalipun hal itu belum mendatangkan pengaruh yang berarti dalam langkah hidupnya. Ilmu-ilmu yang didapatnya dari Juwaini benar-benar dikuasai dengan baik oleh Al-Gazali. Al-Gazali pun mampu mengeluarkan sanggahan-sanggahan kepada para penentangnya. Hal ini membuat Juwaini menjulukinya dengan sebutan “Bahr Mu’riq” (lautan yang menghanyutkan). Berkat kecerdasan yang dia milikilah membuat nama Al-Gazali termansyhur di kawasan kerajaan Saljuk. kemasyhuran itu menyebabkannya dipilih oleh Nizham Al-Muluk untuk menjadi guru besar di Universitas Nizhamiyah Baghdad, pada tahun 482 H / 1090 M. meskipun usianya baru 30 tahun. Selain mengajar di Nizhamiyah, ia juga aktif mengadakan perdebatan dengan golongan-golongan yang berkembang pada saat itu.
            Al-Gazali merupakan seorang pemikir Islam yang popular. Dia berhasil menciptakan lebih dari 50 karya berbentuk buku. Buku-buku ini terdiri dari bidang teologi Islam (ilmu kalam), hukum Islam (fiqh), tasawuf, akhlak dan adab kesopanan, kemudian autobiografi. Sebagian besar dari buku-buku itu berbahasa Arab, dan yang lain ditulis dengan bahasa Parsi. Kitabnya yang terbesar ialah Ihya ‘Ulumuddin, artinya “menghidupkan ilmu-ilmu agama”, yang dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syam, Yerusalem, Hijaz, dan Thus. Buku ini berisi panduan yang dikenal di kalangan kaum muslimin maupun di dunia Barat dan di luar Islam. Bukunya yang lain ialah Al-Munqidz min Adh-Dhalal (Penyelamat dari Kesesatan), yang berisi tentang sejarah perkembangan alam pikirannya dan mencerminkan sikapnya yang terakhir terhadap beberapa macam ilmu, serta jalan untuk mencapai Tuhan. Dan karya Al-Gazali yang paling monumental adalah buku Tahafut Al-Falasifah, dalam bukunya ini Al-Gazali mengkritik pendapat para filsuf. Buku inilah yang kemudian dibantah atau dibuat tandingannya oleh Ibn Ruysd.[1]
           
2.2              Pemikiran Al-Gazali
Awalnya Al-Gazali dikenal sebagai orang yang ragu. Dia meragukan segala sesuatu. Hal ini terjadi setelah dia mempelajari ilmu kalam yang diajarkan oleh gurunya Juwaini. Ilmu kalam yang dia dapat terdapat perbedaan dan banyak versi. Hal ini membuat Al-Gazali berfikir ilmu mana yang paling sesuai kebenarannya. Mula-mula Al-Ghazali mendalami pemikiran kaum mutakallimin dengan segala macam alirannya. Kemudian ia melihat betapa perbedaan-perbedaan itu terjadi karena mereka berlainan dari segi mereka masing-masing memandang soalnya. Al-Ghazali tidak puas dengan dalil-dalil mutakallimin saja. Lalu ia mendalami filsafat. Ia mempelajari karangan-karangan ahli filsafat, terutama karangan Ibnu Sina. Setelah dipelajarinya filsafat dengan seksama, ia mengambil kesimpulan bahwa mempergunakan akal semata-mata dalam soal ketuhanan adalah seperti mempergunakan alat yang tidak mencukupi kebutuhan.
Karena tidak puas dengan hasil-hasil filsafat itu, Al-Ghazali menyelidiki pula pendapat-pendapat aliran batiniyah. Penganut aliran ini berpendirian bahwa ilmu yang sejati atau kebenaran yang mutlak itu hanya dapat diturunkan dari “imam yang ma’shum”, yang suci dari kesalahan dan dosa. Al-Ghazali menanyakan imam yang ma’shum itu. Tidak ada pengikut batiniah yang tahu di mana tempatnya dan kapan ia bisa ditemui. Al-Ghazali akhirnya menyimpulkan bahwa imam ma’shum kaum batiniah itu hanyalah tokoh yang ideal saja, hanya ada dalam anggapan, dan tidak ada dalam alam kenyataan.
Oleh karena belum puas dengan ketiga macam penyelidikan itu, Al-Ghazali lalu meninggalkan kesibukan-kesibukan keduniaan dan mulai mengikuti aliran tasawuf. Ia mengharapkan dalam gerakan tasawuf inilah ia mendapat hakikat kebenaran yang dicari dan diselidikinya selama ini. Ia menghadapkan seluruh hati dan kemauannya hanya kepada Tuhan semata-mata, dan menganggap sepi dunia dengan segala godaannya.
Akhirnya ia merasa berhasil. Ia merasa dengan cara ini pikirannya menjadi sangat jernih, dan dengan tasawuf, ia merasa dibukakan oleh Tuhan sesuatu pengetahuan ajaib yang belum pernah dialami sebelumnya. Pengetahuan itu dianggapnya sebagai rahasia hakikat kebenaran yang dicarinya selama ini.
Kemudian dari sinilah Al-Gazali menjadi salah satu tokoh yang bertentangan dengan para filsuf. Hal itu terlihat dalam bukunya yang berjudul Tahafut Al-Falasifah. Dalam bukunya ini Al-Gazali mencoba mengkrtitik pendapat para filsuf. Dalam buku ini terdapat dua puluh tema penting yang dibicarakan oleh Al-Gazali, yaitu;
1.      Penolakan terhadap keyakinan para filsuf akan eternalitas (azaliyah) alam
2.      Penolakan terhadap keyakinan para filsuf akan keabadian (abadiyyah) alam
3.      Pernyataan para filsuf yang tidak fair bahwa Tuhan adalah pencipta alam, dan bahwa alam itu adalah produk ciptaan-Nya
4.      Ketidakmampuan para filsuf untuk mengafirmasi (tadlil) sang Pencipta
5.      Ketidakmampuan para filsuf untuk membuktikan imposibilitas adanya dua Tuhan melalui argumentasi rasional
6.      Penolakan terhadap keyakinan para filsuf tentang penafian sifat-sifat Tuhan
7.      Penolakan terhadap teori para filsuf bahwa zat Tuhan tidak bisa dibagi kedalam genus (jins) dan diferensi (fashl)
8.      Penolakan terhadap teori para filsuf bahwa prinsip yang pertama (The First Principle) adalah suatu sederhana yang total (basith bi la mahiyah)
9.      Ketidakmampuan para filsuf untuk menunjukkan bahwa prinsip yang pertama adalah bukan benda (jism)
10.  Penjelasan bahwa pandangan tentang masa dan penafian Pencipta lazim bagi para filsuf
11.  Ketidakmampuan para filsuf untuk menyatakan bahwa prinsip yang pertama mengetahui selain diri-Nya (ya’lam ghyrahu)
12.  Ketidakmampuan para filsuf untuk menyatakan bahwa Dia mengetahui diri-Nya sendiri ( ya’lam dzatahu)
13.  Penolakan terhadap ajaran para filsuf bahwa prinsip yang pertama tidak mengetahui  hal-hal pratikular (juz’iyyat)
14.  Penolakan terhadap pandangan para filsuf bahwa langit merupakan mahluk hidup  yang gerakan-gerakannya disengaja (bi al-iradah)
15.  Penolakan terhadap ajaran para filsuf tentang tujuan gerakan langit
16.  Penolakan terhadap pandangan para filsuf bahwa jiwa-jiwa langit mengetahui seluruh hal-hal partikular
17.  Penolakan terhadap kenyakinan para filsuf akan kemustahilan terjadinya hal-hal luar biasa (kharq al-adah)
18.  Penolakan terhadap kenyakinan para filsuf bahwa jiwa manusia adalah subtansi yang eksis dengan sendirinya, dan bukan benda (jism) ataupun aksiden (‘aradh)
19.  Penolakan terhadap keyakinan para filsuf akan kemustahilan fananya jiwa-jiwa manusia
20.  Penolakan terhadap pengingkaran para filsuf akan kebangkitan jasmani yang akan diikuti perasaan senang dan sakit di surga dan neraka, dengan kesenangan dan rasa sakit secara fisik[2]

Tiga dari keduapuluh tema di atas, menurut Al-Ghazali membawa kepada kekufuran, yaitu:
  1. Alam kekal dalam arti tak bermula
  2. Tuhan tak mengetahui perincin dari apa-apa yang terjadi di alam. 
  3.  Pembangkitan jasmani tak ada.

Penjelasannya sebagai berikut. Menurut Bagi Al-Ghazali, bila alam itu dikatakan qadim, mustahil dapat dibayangkan bahwa alam itu diciptakan oleh Tuhan. Jadi paham qadim-nya alam membawa kepada simpulan bahwa alam itu ada dengan sendirinya, tidak diciptakan Tuhan. Dan, ini berarti bertentangan dengan ajaran Alquran yang jelas menyatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan segenap alam (langit, bumi, dan segala isinya). Bagi Al-Ghazali, alam haruslah tidak qadim dan ini berarti pada awalnya Tuhan ada, sedangkan alam tidak ada, kemudian Tuhan menciptakan alam, alam ada di samping adanya Tuhan. Sebaliknya, bagi para filsuf Muslim, paham bahwa alam itu qadim sedikit pun tidak dipahami mereka sebagai alam yang ada dengan sendirinya. Menurut mereka, alam itu qadim justru karena Tuhan menciptakannya sejak azali qadim. Bagi mereka, mustahil Tuhan ada sendiri tanpa mencipta pada awalnya, kemudian baru menciptakan alam. Penjelasan yang kedua, menurut Al-Gazali mana mungkin Tuhan tidak mengetahui hal-hal kecil yang ada di dunia ini. Alam beserta isinya merupakan ciptaanya, jadi mana mungkin Tuhan tidak tahu apa-apa yang telah Ia ciptakan. Penjelasan ketiga, menurut Al-Gazali sebagai seoarang muslim seharusnya kita mengimani tentang pembangkitan jasmani. Agama telah mengajarkan bahwa pada saat kebangkitan nanti jiwa kita akan dikembalikan kedalam tubuh. Berarti mana mungkin tidak adanya kebangkitan jasmani, padahal sudah jelas hal tersebut dalam agama Islam. Jadi menurut Al-Gazali orang-orang yang tidak mengimani kebangkitan jasmani sama saja mereka bukanlah seorang muslim.[3]

2.3              Biografi Ibn Ruysd
Ibn Ruyd bernama lengkap Abu Al-Walid Muhammmad bin Ahmad bin Rusyd. Di Eropa ia lebih dikenal dengan sebutan Avveroes. Ia lahir dan dibesarkan di keluarga yang ahli fiqih. Ayahnya seorang hakim, demikian juga kakeknya yang sangat terkenal sebagai ahli fiqih. Keluarganya ini dikenal sebagai keluarga yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Ibn Ruysd belajar ilmu fiqih, ilmu pasti dan ilmu kedokteran di Sevilla kemudian berhenti dan kembali ke Cordova untuk melakukan penelitian, membaca buku-buku, dan menulis. Sejak usia remaja hingga dewasa, Ibn Ruysd memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan, dia tidak pernah berhenti belajar semenjak dai mampu untuk berfikir. Lebih dari 10.000 lembar kertas ia habiskan untuk mencatat, meringkas buku-buku yang dibacanya dan menulis makalah-makalah yang dikarangnya. Beliau sangat tertarik pada berbagai ilmu pengetahuan kuno. Sebagai qadi al-qudaad, ia dekat dengan para amir (penguasa) Dinasti Al Muwahhidun yang memerintah saat itu, khususnya dengan Abu Yusuf Yakqub al Mansur, amir dinasti ketiga Muwahhidun.
Ibn Ruysd dikenal sebagai seorang tokoh yang menghargai Aristoteles setinggi langit. Namun dalam penyusunan rumus kesimpulannnya Ibn Rusyd tidak terikat pada rumusan aristoteles. Ia mengumukakan pendapat-pendapat atau pahamnya sediri, sekali pun dalam hal itu dia tetap mengikuti jejak guru pertama (Aristoteles). Pada awalnya Ibn Ruysd dikenal sebagai seorang ahli fiqih. Di bidang ilmu fiqih ia berhasil meninggalkan warisan berupa buku yang berjudul Bidayatul-Mujtahid wa Nihayatul-Muqthasid, dilihat dari bukunya ini Ibn Rusyd terlihat memilki pemikiran tersendiri dibidang ilmu fiqih, sama halnya di bidang filsafat dimana dia juga mempunyai pandangan dan aliran tersendiri. Ibn Rusyd juga menulis buku tentang penyesuaian anatar agama dan filsafat. Diantaranya adalah Kasyfu An Manahijil Adillah (Ungkapan tentang Metode Pembuktian) dan Fashlul-Maqal Fima Bainal-Hikmah Wasyf-Syariah Minal-Ittishal (Kata putus tentang Kaitan Antara Filsafat dan Syariat).Sedangkan pemikiran filsafatnya dapat diketahui melalui bukunya yang sangat terkenal, Tahafut At-Tahafut yang ditulis sebagai sanggahan terhadap buku Al-Gazali Tahafut al-Falasifah.[4]
Pada akhir hidupnya Ibn Ruysd mengalami cobaan yang berat. Para ahli fiqh yang bekerja di Istana Khalifah memfitnahnya hingga Khalifah marah dan membuangnya ke Alesana, sebuah kota dekat Cordova. Setelah bebas dari pembuangan ia pindah ke Maroko, sampai wafat pada tahun 595 H.


2.4              Pemikiran Ibn Ruysd
Aliran filsafat Ibn Ruysd adalah rasional. Ia menjunjung tinggi dan menghargai peranan akal, karena dengan akal fikiran itulah manusia dapat menafsirkan alam wujud. Ibn Ruysd adalah seorang filsuf muslim yang menggunakan akal dan pemikiran logis untuk menemukan suatu kebenaran. Filsafat yang digunakan oleh Ibn Ruysd merupakan aktualisasi filsafat Aristoteles. Yaitu pendekatan sifat rasional dan dialektikis dengan menggunakan wahyu. Dalam bukunya Fashl al-Maqal, Ibn Ruysd menjelaskan bahwa filsafat tidak bertentangan dengan wahyu. Bahkan filsafat dibutuhkan untuk memahami makna tersembunyi dalam setiap ayat-ayat Al-quran, yaitu dengan menggunakan al-itibar. Al-itibar adalah keraguan yang awalnya terjadi, dari keraguan itu kemudian kita menyelami secara mendalam menuju kepastian atau sesutau yang dianggap benar. Mendalami untuk kemudian muncul dengan pengalaman dan pengetahuan yang baru.
Terlihat dari sini bahwa Ibn Ruysd merupakan seorang filsuf yang tidak menjadikan dogma atau agama sebagai sesuatu yang kaku dan tidak boleh di “sentuh”. Namun Ibn Ruysd menjadikannya sebagai sebuah petunjuk yang terdiri dari symbol-simbol yang harus dicari mengenai maksud dan makna yang terkandung dalam setiap ayatnya. Bagi Ibn Ruysad antara akal dan wahyu dapat berjalan untuk salingg melengkapi, karena wahyu danya dapat ditangkap menggunakan akal dan akal akan mecapai pencerahan dengan menggunakan wahu. Hal ini dijelaskan oleh Ibn Ruysd dalam bukunya Fashl al-Maqal.
Ibn Ruysd dapat berpendapat bahwa akal dan wahyu bisa saling melengkapi hal tersebut didasari karena Ibn Ruysd merupakan seorang faqih. Ia memahami dan menguasai hokum syariat dan fiqih pemikiran Maliki sebagaimana yang ia tuangkan dalam bukunya Bidayat al-Mudjtahid.[5]

2.5              Al-Gazali VS Ibn Ruysd
Pada satu generasi Al-Gazali tampil dan mengkritik dengan dahsyat filsafat, khususnya Neoplatonisme al-Farabi dan Ibn Sina. Sekalipun Al-Gazali menolak filsafat, namun ia mempelajari dan menguasai filsafat secara dalam. Tujuan Al-Gazali mengktirik filsafat adalah karena ia membela dan menggiatkan kembali kajian keagamaan, terlihat dalam karya utamanya yang berjudul Ihya’’Ulum al-Din (Menghidupkan kembali ilmu-ilmu Agama). Selain itu dalam bukunya yang berjudul Tahafut al-Falasifah (Kekacauan para Filsuf), Gazali mencoba mengkritik para filsuf karena terdorong oleh gejala berkecamuknya pikiran bebas waktu itu yang banyak membuat orang-orang meninggalkan ibadah. Dalam banyak hal Al-Gazali adalah penerus langsung peranaan Al-Asyari dengan metode yang ia pinjam dari kaum Mutazilah ini Al-Gazali berhasil mengkritik para filsuf. Semenjak itu pun dia diberi gelar “Hujjat al-Islam: (Argumentasi Islam). Meski Al-Gazali dengan sepenuhnya membela agam, tapi pembelaan itu dilakukan dengan memperkenalkan berbagai cara berpikir dan metode yang saat itu dirasakan sebagai heterodoks dan bid’ah, karena menyalahi tradisi pemikiran keagamaan yang dikenal. Penyelesaian yang ditawarkan Al-Gazali begitu memukau dunia intelektual Islam, Al-Gazali sedemikian detailnya member penyelesaian masalah-masalah keagamaan Islam, sehingga yang terjadi adalah dia bagaikan telah menciptakan sebuah “kamar” untuk Ummat yang walaupun sangat nyaman, tetapi kemudian mempunyai efek pemenjaraan kreatifitas pemikiran Islam. Sejak itu ummat Islam terkukung dalam sel nyaman Gazaliisme.
            Namun, tidak beberapa lama sepeninggalnya Al-Gazali, di ujung barat Dunia Islam, di Kota Cordova, Spanyol, muncul seorang yang dengan kemampuan intelektual luar biasa berusaha memecahkan sel Gazaliisme. Dialah Ibn Ruysd, seorang ahli Aristoteles yang terkahir, dan terbesar dalam Islam. dalam karyanya yang berjudul Tahafut al-Tahafut (Kekacauan Buku Kekacauan), dengan cerdik dan tendensius Ibn Ruysd memberikan balasan buku Al-Gazali yang mengkritik filsafat Ibn Sina.
            Ibn Ruysd berusaha menjawab kritikan Al-Gazali mengenai usaha Al-Gazali yang berusaha merobohkan dalil keharusan sebab musabab bagi segala sesuatu. Melalui bukunya Ibn Rusyd menjawab: ‘Mengingkari sebab musaba yang dapat dilihat dalam segala kenyataan adalah (sophisme) atau omong kosong”. Orang yang mengatakn hal tersebut mengingkari apa yang dikatakan dalam hatinya, atau mengikuti omong kosong untuk meragukan apa yang dihadapinya..” Ibn Ruysd kemudian membalikkan soal sebab-musabab kepada empat sebab pokok sebagaimana yang dikatakan Aristoteles, yaitu; Pertama, ‘Illah Maadiyyah (sebab musabab yang berkaitan dengan benda). Kedua, ‘Illah Shuwariyyah (sebab musabab dengan bentuk atau form). Ketiga, ‘Illah Fa’illah (sebab musaba yang berkaitan dengan dayaguna). Keempat, ‘Illah Gha’iyyah (sebab musabab yang berkaitan dengan tujuan). Menurut Ibn Ruysd meniadakan semuannya itu berarti meniadakan dan menolak ilmu pengetahuan.  Sebagai seorang yang berfikir rasional Ibn Rusyd menafsirkan agama pun dengan penafsiran yang rasional. Namun ia tetap berpegang pada sumber agama itu sendiri, yakni Al-quran. Dalam bukunya Fashlul-Maqal Bainal-Himah wasy-Syariah ia berpendapat, bahwa mengenal Sang Pencipta tidak mungkin berhasi kecuali dengan jalan melakukan pengamatan terhadap alam wujud yang diciptakan Allah, untuk membuktikan tentang adanya Sang Pencipta.
            Ibn Ruysd juga menyayangkan sikap Al-Gazali yang membawa permasalahan mengenai filsafat ini kepada kalangan awam, karena menurut Ibn Ruysd manusia itu terbagi dalam tiga kategori, yaitu:
         Ahl-khitab (kaum retoris)
         Ahl-jadal (kaum dialektis sopis)
         Ahl-burhan (kaum rasional-demonstratif)
Dari ketiga kaum ini yang memiliki kemampuan memahami filsafat adalah ahl-burhan, dan apabila Al-Gazali memberikan persoalan ini kepada semua golongan maka akan terjadi kekacauan penafsiran dan pendapat. Selain itu Al-Gazali juga memilki sebuah kelemahan dalam mengkritik karena Al-Gazali mempelajari mengenai filsafat bukan dari sumber primer, melainkan dia melakukan kritik melalui pemahaman yang terlah mengalami distorsi oleh para penerjemah maupun para penulis Islam. Selain itu kritikan yang dilontarkan oleh Al-Gazali juga tidak memilki landasan yang cukup kuat karena Al-Gazali tidak menguasai ilmu hadist. Dengan begitu Ibn Ruysd berhasil menyelamatkan filsafat dalam Islam yang nyaris mati dihantam pemikiran Al-Gazali.



[2]  Athif Iraqi dalam Misrawi (ed): Ibnu Rusyd Gerbang Pencerahan Timur Dan Barat. 2007. hlm 149
[3] Ibid., hal 159
[4] Ahmad, Fuad. 1993. Filsafat Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus. hlm 82-87.
[5] Ibnu Rusyd. 1970. Bidayatul Mujtahid. Jakarta: Bulan Bintang.

Kamis, 09 Juni 2011

Pagi di srengseng..


Pagi ini begitu sunyi, dingin dan cerah!
Kulihat dikejauhan, pangeran hari tengah mengintip!
Datar dan malu..

Dari sini aku bisa dengar nyanyian kehidupan..
Diujung sana beradu kicau merpati dengan raungan mesin..
Sayup-sayup terdengar suara pencari nafkah..

Balada pagi di srengseng..

Waktu melompat, dan suara tapak kaki semakin keras..
Dari sini kulihat ayah mengantar anaknya..
Dan istri menyapu halamannya..

Bangkitlah nalarku dipagi ini,
aku ingat betapa sederhananya pagi..

Pagi di srengseng..

-vadlanisme-

Nasionalis Tua


Langkahmu lunglai termakan masa
Kau sudah tak seperti dulu
Kuat, berani, gagah bak harimau
Lantang dengan karabijnmu
Hadang semua penjajah negerimu.

Dulu dan sekarang sudah beda
Dulu adalah masamu berkorban
Sekarang adalah masamu dikorbankan
Kau ditelantarkan bagaikan sampah
Dibiarkan menderita dalam kekurangan
Kau diacuhkan bangsamu
Yang kau bela dengan merah darahmu
Tapi
Kau tidak pernah berubah
Cintamu padanya kekal
Bagaikan laut yang membentang
Sepanjang mata memandang

Kau seorang loyalis tua
Pecinta negara dan rakyatnya
Kau pahlawan bangsa.

“Untuk semua Veteran disemua medan juang”
-vadlanisme-

Selasa, 11 Januari 2011

Dia sudah pergi



( A Tribute to Abdurrahman Wahid )

Satu orang lagi sudah pulang
Orang yang selalu tertawa riang
Yang kata-katanya buat kita senang
Dia sudah pulang

Meninggalkan kita dengan warisan pemikiran
Bahwa semua manusia adalah sama..
Sama dan punya hak yang sama
Yang tiada beda dimatanya
Walau nyatanya kita semua berbeda..

Selamat tinggal orang yang lucu
Selamat jalan bapak guru
Semoga kamu bahagia ditempat yang baru
Dan akan kami teruskan perjuanganmu

Januari, 2010